Sabtu, 05 Desember 2009

Pengalaman IKM

Sudah hampir 1,5 bulan saya menjalani studi di bagian ilmu kedokteran komunitas dan ilmu kedokteran pencegahan (IKK/IKP). Bagian ini mengharuskan dokter muda (DM) untuk mempelajari, membuat penelitian dan menerapkan ilmu di salah satu Puskesmas yang ditunjuk. Kebetulan yang ditugaskan diwilayah Baturiti yang terkenal dengan keindahan alamnya dan sentra produksi sayur-mayur. Lumayan juga makan kol, sawi, buncis, wortel dan brokoli segar setiap hari, jalan-jalan di tengah sawah, dan melihat pemandangan indah setiap hari tanpa harus menginap di villa. Hidup diluar kota denpasar yang ribut ternyata menyenangkan.

Banyak hal yang saya dapatkan disini. Para petugas kesehatan ramah, sabar memberi penjelasan tentang program-program puskesmas, dan baik sekali, sampai-sampai kita diberi tempat tinggal sementara. Selain itu, masyarakat sekitar yang kebaikannya tulus dan lugu membuat saya, dan kedua teman saya yang ditugaskan ditempat yang sama menyadari bahwa masih banyak orang yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi juga memperhatikan sesama dan terbuka bahkan pada orang asing seperti kami.

Namun studi di bagian IKK/IKP juga telah membuka mata saya tentang gambaran kesehatan masyarakat Indonesia pada umumnya, tentang rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan yang paling sederhana, tentang ketidakpedulian setiap orang yang seharusnya bertanggung jawab, tentang sistem kesehatan Indonesia yang tidak teratur, tentang kebijakan para petinggi yang lebih mementingkan keangkuhan diri dari pada kepentingan orang banyak, yang didalamnya bukan hanya rakyat jelata tapi juga teman, keluarga dan bahkan diri mereka sendiri.

Banyak sekali bila harus dijabarkan satu persatu. Mungkin juga bisa menyinggung banyak pihak. Tapi setidaknya banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Bahwa terkadang rasionalitas, bukanlah hal yang bisa diterima banyak orang, bahwa sebuah perubahan untuk banyak orang menuju kearah yang lebih baik membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, dan bahwa pengetahuan dan tingkat kesehatan masyarakat adalah tugas para tenaga kesehatan. Bila bukan saya, dan petugas kesehatan lainnya, siapa lagi yang bisa meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia.

1 komentar:

AHEAD mengatakan...

setuju denganmu
sebenernya tergantung partner lo juga saat lo belajar di ikm.
Apakah jika kita idealis dia juga idealis?
Kalau ga sama, penelitian dan penyuluhan bakal percuma.... cuma mentok sampe disana...

IKM itu buat orang-orang idealis.
Kerja turun ke lapangan itu capek.
Tapi buat orang idealis, peluh itu ga berarti apa-apa asal masyarakat bisa punya pandangan lebih baik tentang kesehatan.

Lab ini gw jalanin dengan ga terlalu enak... **sigh**
Gw pengennya jalan dengan benar, tapi malah jadi ngasal karena berpedoman dengan "udahlah yang penting selesai" dan akhirnya malah percuma.