arti setiap nilai
Pernah tidak merasakan bahwa doa kita yang terkabul ternyata menyusahkan. Atau penah tidak terpikirkan untuk mencabut kembali doa yang sudah kita panjatkan, dan menggantinya dengan yang lain. Atau merasa menyesal doa yang kita panjatkan terlalu idealis, tidak egois, tidak klise dan tidak menuruti hawa nafsu semata.
Setahun yang lalu, saat akan memasuki jenjang dokter muda, saya pernah berdoa pada Tuhan untuk menjadikan masa dokter muda untuk membentuk diri saya menjadi dokter yang baik. Ternyata Tuhan mendengarkan doa saya. Sangat mendengarkan, menjawab, dan konsisten dengan jawabannya selama 1 tahun penuh plus 1 bulan, 6 bagian di siklus bedah, dan 1 bagian di siklus medik, 7 kali ujian, entah berapa kali responsi, tinjauan kasus, mini cex dan sebagainya.
Selama masa DM saya selalu mendapat jejaring, yang cukup jauh. Kalau dekat, pasti dokter penanggungjaawabnya killer, kasih tugas macam-macam, banyak, menguas tenaga, pikiran dan nyawa. Kalau presentasi responsi, tinjauan kasus atau minicex pasti suka ditanya macam-macam, detil, expertasi tinggi (yang residen saja tidak tahu jawabannya) dan banyak. Kalau berkelompok atau berdua, pasti aku saja yang ditanyai, temanku biasanya dlewati begitu saja. Pernah temanku nyuruh aku menangis didepan saat presentasi tinjauan kasus setelah hampir 3 jam berdiri menjawab pertanyaan dari dokter penanya. Atau sering melihat tatapan penuh iba dan belas kasihan teman-teman lain, setelah dibantai saat presentasi responsi.
Kalau ujian tidak pernah mudah. Selalu sulit, dengan pertanyaan yang berkembang kemana-mana, tetap detil, expertasi tinggi, macam-macam dan banyak. Ujianku biasanya memakan waktu diatas 2 jam. Paling lama 3 hari dengan 5 dokter. Dan itu, nilai hasilnya cuma B, padahal belajarnya udah mati-matian. Udah gitu dapat tugas segambreng. Sampai mau muntah rasanya negrjain tugas. Itu hanya karena mendapat penguji dengan julukan knalpot. Ataupun yang standart, pasti ada saja masalah, jadi sama saja B. Berbeda dengan teman-temanku yang lain, udah jejaringnya dekat, presentasi responsi atau tinjauan kasusnya hanya show off, ujian cuma bermodalkan senyum tapi bisa sukses bawa A hanya karena dapat penguji jackpot, atau lagi baik. Padahal kalau kalau diskusi tidak lebih cerdas dari pada DM yang lain.
Bisa dilihatkan jawaban Tuhan begitu baik. Namun proses untuk melewatinya begitu berat, begitu menjengkelkan, dan menimbulkan iri hati. Terkadang mudah berkata “tidak apa-apa dapat B, yang penting ilmu yang didapatkan”. Tapi kita semua tahu nilai adalah sebuah apresiasi dari ketekunan dan kecerdasan. Jelas, nilai A adalah sebuah apresiasi tertinggi bagi seorang mahasiswa. Sebuah kebanggaan. Bukankah penghargaan itu penting bagi motivasi, harapan, dan mimpi. Ini bukan sekedar ambisi. Bukan sekedar nilai A. Nilai B yang sudah didapatkan dengan susah payah tidak bisa dibandingkan dengan nilai B lain yang didapatkan karena belas kasihan. Termasuk nilai A yang didapatkan karena keberuntungan. Nilai B ini begitu berharga. Namun dimata semua orang itu tetaplah nilai B. Nilai B yang setara dengan semua nilai B diseluruh dunia. Yang kebanggannya tidak bisa disamakan dengan nilai A.
Nilai A cuma nilai. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa merawat dan menjaga pasien dengan segala ilmu pengetahuan dan hati yang kita miliki. Jelas, saat merawat pasien tidak mungkin kita mengandalkan keberuntungan, belas kasihan dan penguji yang jackpot. Saat itulah, pikiran dan perasaan kita berbicara. Dan penghargaan pasien adalah nilai yang paling berharga melebihi nilai A dari manapun..
1 komentar:
hhmmm....
di co ass memang begitulah vi,
aku pernah juga dijajarkan dengan orang yang senyum jauh sangat manis dan badannya jauh sangat langsing, dan dia yang dapat A.
Tapi menurutku, aku memang tidak siap... Jawabannya biasa, tapi performance dan keyakinannya bagus. Wajahnya radiant dengan pede. Aku tidak.
Co ass adalah cerminan dunia luar nanti saat kita lulus dokter, tentunya dokter yang kerja di suatu organisasi. Tapi kalo praktek mandiri tentu ga seperti itu.
Bagaimana kalo kita anggap ini adalah pengalaman berharga saat co ass. Semua orang punya jalannya.
Toh yang dapat straight A belum tentu beruntung nantinya.
Jackpot atau Knalpot menurutku tak sepenuhnya dari Tuhan....
Itu juga kadang genetik.
Beberapa orang, tentunya bukan aku, memilikinya. kalo kamu tau maksudku. haha!
btw, bukan yang senyumnya cantik aja loh, kadang kamu bakal heran, cowo jelek yang patol bisa dengan mudah dapat A. nah, ternyata mereka punya caranya ;)
Semangat vi!
Posting Komentar