Jumat, 25 September 2009

arti setiap nilai

Pernah tidak merasakan bahwa doa kita yang terkabul ternyata menyusahkan. Atau penah tidak terpikirkan untuk mencabut kembali doa yang sudah kita panjatkan, dan menggantinya dengan yang lain. Atau merasa menyesal doa yang kita panjatkan terlalu idealis, tidak egois, tidak klise dan tidak menuruti hawa nafsu semata.

Setahun yang lalu, saat akan memasuki jenjang dokter muda, saya pernah berdoa pada Tuhan untuk menjadikan masa dokter muda untuk membentuk diri saya menjadi dokter yang baik. Ternyata Tuhan mendengarkan doa saya. Sangat mendengarkan, menjawab, dan konsisten dengan jawabannya selama 1 tahun penuh plus 1 bulan, 6 bagian di siklus bedah, dan 1 bagian di siklus medik, 7 kali ujian, entah berapa kali responsi, tinjauan kasus, mini cex dan sebagainya.

Selama masa DM saya selalu mendapat jejaring, yang cukup jauh. Kalau dekat, pasti dokter penanggungjaawabnya killer, kasih tugas macam-macam, banyak, menguas tenaga, pikiran dan nyawa. Kalau presentasi responsi, tinjauan kasus atau minicex pasti suka ditanya macam-macam, detil, expertasi tinggi (yang residen saja tidak tahu jawabannya) dan banyak. Kalau berkelompok atau berdua, pasti aku saja yang ditanyai, temanku biasanya dlewati begitu saja. Pernah temanku nyuruh aku menangis didepan saat presentasi tinjauan kasus setelah hampir 3 jam berdiri menjawab pertanyaan dari dokter penanya. Atau sering melihat tatapan penuh iba dan belas kasihan teman-teman lain, setelah dibantai saat presentasi responsi.

Kalau ujian tidak pernah mudah. Selalu sulit, dengan pertanyaan yang berkembang kemana-mana, tetap detil, expertasi tinggi, macam-macam dan banyak. Ujianku biasanya memakan waktu diatas 2 jam. Paling lama 3 hari dengan 5 dokter. Dan itu, nilai hasilnya cuma B, padahal belajarnya udah mati-matian. Udah gitu dapat tugas segambreng. Sampai mau muntah rasanya negrjain tugas. Itu hanya karena mendapat penguji dengan julukan knalpot. Ataupun yang standart, pasti ada saja masalah, jadi sama saja B. Berbeda dengan teman-temanku yang lain, udah jejaringnya dekat, presentasi responsi atau tinjauan kasusnya hanya show off, ujian cuma bermodalkan senyum tapi bisa sukses bawa A hanya karena dapat penguji jackpot, atau lagi baik. Padahal kalau kalau diskusi tidak lebih cerdas dari pada DM yang lain.

Bisa dilihatkan jawaban Tuhan begitu baik. Namun proses untuk melewatinya begitu berat, begitu menjengkelkan, dan menimbulkan iri hati. Terkadang mudah berkata “tidak apa-apa dapat B, yang penting ilmu yang didapatkan”. Tapi kita semua tahu nilai adalah sebuah apresiasi dari ketekunan dan kecerdasan. Jelas, nilai A adalah sebuah apresiasi tertinggi bagi seorang mahasiswa. Sebuah kebanggaan. Bukankah penghargaan itu penting bagi motivasi, harapan, dan mimpi. Ini bukan sekedar ambisi. Bukan sekedar nilai A. Nilai B yang sudah didapatkan dengan susah payah tidak bisa dibandingkan dengan nilai B lain yang didapatkan karena belas kasihan. Termasuk nilai A yang didapatkan karena keberuntungan. Nilai B ini begitu berharga. Namun dimata semua orang itu tetaplah nilai B. Nilai B yang setara dengan semua nilai B diseluruh dunia. Yang kebanggannya tidak bisa disamakan dengan nilai A.

Nilai A cuma nilai. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa merawat dan menjaga pasien dengan segala ilmu pengetahuan dan hati yang kita miliki. Jelas, saat merawat pasien tidak mungkin kita mengandalkan keberuntungan, belas kasihan dan penguji yang jackpot. Saat itulah, pikiran dan perasaan kita berbicara. Dan penghargaan pasien adalah nilai yang paling berharga melebihi nilai A dari manapun..

Terhenyak (lagi kesal)

Ga nyadar sudah lama tidak nulis. Lama sekali…

Banyak sekali yang terlewatkan. Semua pengalaman yang harusnya tersaring dan tersebar. Yang bisa kita pahami dan kita telaah. Yang bisa kita bandingkan, dan bisa jadi pijakan buat kita melangkah.

Ada yang bilang kehidupan adalah perubahan, kita tidak bisa hidup selama tidak bisa bertransformasi terus-menerus. Lalu apakah orang-orang konvensional yang memegang teguh adat istiadat dan aturan itu tidak hidup? Mereka hidup, tapi mereka tidak pernah menghargai dan mensyukuri hidup yang ada pada mereka. Hidup dengan mengurung diri dalam sangkar lalu sirik dengan kehidupan dalam sangkar.

Aku lagi kesal dengan sesorang yang terlalu konvensional, hingga menjadi feodal. Bertingkah bak raja, sekenaknya membuat keputusan yang buat orang lain pontang-panting, depresif dan putus asa.

Hidup seperti itu sebaiknya dibiarkan saja. Mungkin orang-orang itu bisa tidur tenang hanya dengan melihat orang lain kelabakkan. Sayangnya, hidup itu seperti momentum. Saat suatu benturan terjadi disatu sisi, terjadi lagi benturan disisi lain. Kita tidak bisa lari dari orang-orang seperti itu selama orang-orang itu masih bernapas, berjalan, berbicara dan berpikir…